Jika kita memperhatikan proses pembangunan rumah atau gedung, kita akan mendapati tahapan awal yaitu membuat pondasi. menariknya, sebuah pondasi dibuat dengan cara memasukan adukan semen/ beton kedalam lubang galian. Bisa dipastikan komposisi semen dan batu pada pondasi ini, jauh lebih besar dibanding komposisi untuk dinding. Dan, meskipun bahanya jauh lebih banyak, ternyata pondasi itu tetap terbenam didalam alias tidak untuk ditampakan langsung.
Analogi ini sejalan dengan penanaman pondasi-pondasi Islam. Seorang muslim yang pondasi Islamnya terbuat dari campuran rukun iman dan rukun islam dengan komposisi yang besar, maka akan memiliki pondasi yang kokoh ketika atasnya dibangun (diberi tanggungjawab) besar. Memahamkan pondasi-pondasi Islam akan membantu menemukenali hal-hal sebagai berikut;
1. Konsep kunci; pemahaman yang mendalam tentang konsep - konsep kunci tentang Rukun Iman dan Islam akan berguna dalam menemukan kejanggalan dari segala sesuatu. Kita tidak akan dapat mengenali kalau tidak menulis/ berkata-kata. Orang barat mengembangkan ilmu pengetahuan berbasi panca indar. Dimana prosesnya adalah pengalaman empiris, lalu menjadi pengetahuan, dan pengetahuan itu dipahami secara panca indra (masuk akal). Sementara dalam islam, selain konsep panca indra ada juga konsep Ghaib. sehingga tantangan besarnya adalah menjelaskan bahwa yang ghaib itu bukan tidak ada, seperti yang menjadi pehamanan barat hari ini.
2. Konsep kecerdasan; Puncak kecerdasan terlihat dari kemampuan menyederhanakan ayat Allah dalam bahasa yang dipahami manusia (kreatif). Orang cerdas adalah orang yang merasa berhutang kepada Allah SWT.
3. Konsep sumber Ilmu. Dalam Islam terdapat istilah informasi benar (Khabar Shadiq) yang bisa menjadi rujukan manusia. Informasi benar ini al: Al-Qur'an, As-Sunnah, Intuisi, Akal, Panca Indra.
Pemahaman yang benar diawali dengan pengambilan sumber yang terpercaya. Sumber terpercaya ini telah di isyaratkan oleh Nabi Muhammad SAW. Dalam Hadits 'Aisyah Radhiyallahu anhuma, ia berkata:" Seorang lelaki bertanya kepada Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam: ' Siapakah sebaik-baik manusia?' Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: '(yaitu) kurun, yang aku hidup saat ini, kemudian kurun berikutnya, kemudian kurun berikutnya. Para ulama melakukan tafsir terhadap hadits ini. Salah satunya yang menjelaskan kurun sebagai abad. Jika kurun sebagai abad, maka kira-kira 3 abad pertama sejak nabi wafat, dimaknai sebagai masa dimana orang-orang sholeh/ ulama yang hidup dimasa tersebut adalah orang-orang yang fatwanya atau pendapatnya diutamakan, dibanding ulama setelahnya. Maka lalu dikenal istilah generasi sahabat, generasi tabi'in, dan generasi tabi'ut.




0 komentar:
Posting Komentar